Musisi Tanpa Karya

    Seniman musik atau yang biasa kita kenal dengan sebutan musisi adalah lebih dari sekedar profesi melainkan juga merambah pada gaya hidup dan kehidupan. bisa kita lihat dari cara berpakaian, hidup hingga cara atau pola berfikir. Dewasa ini genre musik adalah menjadi acuan dari bagaimana berpakaian sehingga tak aneh jika banyak toko atau distro yang menjamur untuk memenuhi keinginan para pelaku atau sekedar pecinta suatu genre musik. Baik apapun genre-nya blues, jazz, rock, punk atau K-Pop sekalipun bukan hanya gayanya yang menjadi tujuan dan modal utama tetapi adalah karyanya. 
    Begitu banyak individu yang mengaku dengan sebutan musisi tak lain hanya baru beberapa minggu belajar suatu instrumen, gitar misalnya atau malah sudah berpuluh tahun memainkan gitar kemudian mengaku musisi tapi TIDAK mempunyai kaya abadi satupun. Indah bukan??? Ya, fenomena ini terjadi dan sangat marak ketika saya sudah sekian lama bergaul dengan om-om yang berpredikat musisi senior. Beliau-beliau ini sudah berpuluh tahun bermain suatuinstrumen seperi gitar, keyboard dan sbagainya bahkan hanya baca-baca majalah mengenai musik saja dan mengaku berprofesi sebagai musisi yang notabene tanpa karya ;) keren bukan???

     Musisi yang termasuk seniman ini seharusnya memiliki minimal sebuah karya yang serius. serius dalam arti tidak sekedar genjrang-genjreng merekam suara dan kemudian mengatakan "Ya, saya sudah punya karya". Bukan berhenti di sana dan berbangga hati karena sudah rekaman dengan alat rekaman mewah luar biasa studio terbaik di daerahnya dan ber-aset ratusan juta. Bukan itu, musisi adalah orang yang bisa membuat karya dengan apik, berfilosofis dan memiliki alur di dalamnya.
    Soal menjadi musisi senior itu bukan hanya berapa lama musisi itu bermain gitar, tetapi juga dilihat dari karya-karyanya yang dibuat secara serius. Kualitas dari karya adalah yang paling utama bukan harga instrumen-instrumenya. instrumen yang baik tidak diukur dari harga, tetapi instrumen yang baik adalah sebagai penunjang karya yang sudah lebih baik dari instrumen itu sendiri. 
    Musisi gila pada
.

masalalu pun tidak melalui instrumen rekaman yang sangat mewah seperti beethoven dan mozart bahkan belum ada teknologi rekaman suara samasekali, mereka menggunakan tulisan-tulisan not partitur untuk menyimpan karyanya. Instrumen rekaman baru ada pada akhir abad 19 di zaman blues dan swing. Mulai saat itu adalah saat di mana rekaman dengan cara mencatat mulai tergerus dengan cara ini, 
   Akhir kata pada artikel ini adalah seorang musisi harus bahkan wajib belajar serius untuk mencapai karya, bukan hanya genjrang genjreng asal bersuara dengan dalih soul dan selera semata tetapi juga untuk mendidik masa depan anak cucu kita melalui karya yang saintifik.

Komentar